Haruskah kau alami?
Senin, Februari 25, 2008
Kecintaanku padamu sudah demikian mendalammya. Andai tidak kupunya rasa mahabbahku ke sang Khalik, mungkin engkaulah puncak kecintaanku. Kecintaan itu membuat demikian tipisnya beda antara kesedihan dan kebahagiaan, kecintaan dan kebencian, keceriaan dan kegundahan. Kebahagiaan yang kau panjatkan untukku justru seolah menjadi cambuk yang membuatku semakin getir, karena kau tahu tidak ada kebahagiaan disitu, karena kau tahu, kata-katamu menjadi suatu yang ironi.
Ya... terserah apa maumu, terima atau tidak, kamu tidak pernah bisa mengerti, tidak mau mengerti dan tidak pernah akan mengerti, karena ku tahu egoismu lebihi hatimu, tinggalkan nuranimu, lepaskan pikiranmu. Kau tahu, kau mengerti, jika memang kau sudah alami.
Ku takkan pernah putuskan tali silaturrahim ini, karena itu do'aku. Ku kan pelihara ikatan ini, karena itu pintaku pada-Nya. Namun bukan berarti kuingin temui dirimu
¨

